CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 14 Februari 2012

Kecelakaan Maut di Tugu Tani


Saat itu, Afriani Susanti yang masih berada dalam pengaruh alkohol dan narkoba mengendarai mobil. Ia bersama tiga temannya baru saja selesai berpesta minuman keras dan narkoba jenis ekstasi di sebuah kelab malam. Kasus Afriani semakin membuktikan betapa ancaman narkoba semakin mengerikan. Bertambah mengerikan bila kita melihat fakta dengan mata telanjang bahwa peredaran narkoba di kelab malam Ibu Kota semakin bebas.


Pemakai bisa membunuh orang lain yang tidak berdosa secara massal seperti yang terjadi dalam tragedi di Tugu Tani. Namun, kesadaran politik mengenai soal itu masih rendah, sangat rendah. Tragedi maut di Tugu Tani mestinya menyadarkan para pemimpin negara ini betapa parahnya narkoba telah merusak anak bangsa.                                                                                 


Afriyani Susanti, pengemudi Daihatsu Xenia B 2479 XI, ternyata menenggak tiga botol minuman keras jenis whiskey dan bir pada malam sebelum kecelakaan terjadi pada Minggu (22/1/2012) siang. Saat itu Afriyani yang bekerja freelance di production house perfilman itu berpesta miras bersama teman-temannya, yakni Arisandi (34), Denny M (30), dan Adistina (26)di sebuah kafe di Kemang, Jakarta Selatan. Hal ini disampaikan Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto, Selasa (24/1/2012) di Mapolda Metro Jaya. “Jadi pas minum itu, mereka konsumsi tiga botol whiskey dan tiga botol bir bersama-sama,” kata Nugroho.


Sebelumnya, pada Sabtu 21 Januari malam sekira pukul 20.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, Afriani Cs menghadiri pesta ulang tahun di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Di cafe kemang, keempatnya menghabiskan malam dengan menikmati minuman beralkohol berupa bir dan whisky. Belum puas, pesta berlanjut ke diskotik Stadium, mereka kemudian berpindah tempat. Dengan menggunakan mobil Xenia, mereka menuju sebuah kelab malam di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Di sana mereka kembali minum dan juga mengonsumsi narkoba jenis ganja dan pil ekstasi, masing-masing orang setengah butir.


Nugroho menambahkan, sekira pukul 10.00 WIB, keempatnya berniat kembali ke Kemang untuk mengambil kendaraan salah satunya yang diparkir di sana. Namun, sekira pukul 11.00 WIB, Afriani tidak bisa mengendalikan kendaraan hingga akhirnya menabrak trotoar, pejalan kaki, pagar dan halte bus.


Menurut Nugroho, kecelakaan lebih diakibatkan pada pengaruh minuman keras dan bukan pil ekstasi sebab tersangka Afriyani hanya menelan setengah butir ekstasi. “Lebih ke pengaruh minuman kerasnya karena mereka cukup banyak minum malam itu,” ujar Nugroho.


Akibat miras yang terlampau banyak dan juga dampak pesta semalam suntuk, kondisi tubuh Afriyani diduga tak lagi prima. Dia mudah hilang konsentrasi dan bahkan diduga mengantuk. Naas, ia kehilangan kendali saat melintas di Jalan MI Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat. Mobil Xenia yang dikendarainya oleng bak badak mabuk dan menyeruduk 13 orang pejalan kaki. Sembilan orang tewas pada peristiwa itu. Nugroho menambahkan lagi, tersangka Apriyani mengemudikan mobil dalam kondisi out of control karena pengaruh minuman keras, bukan akibat ekstasi.


Pengaruh miras tersebut tak heran membuat pengemudi melajukan kendaraan melebihi batas kecepatan normal. Menurut keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, Afriani Susanti, mengemudikan kendaraan Daihatsu Xenia mencapai 100 kilometer per jam ketika menabrak 13 orang di di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat pada Minggu kemarin.


Kini Afriyani dilimpahkan dari Ditlantas Polda Metro Jaya untuk melakukan pemeriksaan mendalam terkait kepemilikan ekstasi. Salah seorang petugas piket Direktorat Penitipan Tahanan dan Perawatan Barang Bukti, Ajun Komisaris Umar Wirahadikusuma, mengatakan, saat dibawa masuk ke sel barunya, Afriyani tampak tenang. “Dia tenang. Tidak syok dan terlihat enjoy, biasa saja. Enggak kelihatan seperti orang bingung juga, komunikasi lancar,” papar Umar, Senin malam, di Mapolda Metro Jaya. Umar mengatakan, saat dirinya bertanya apakah ada keluhan, Afriyani menjawab tidak ada yang dikeluhkan.
Kronologi Tabrakan


Saksi mata bernama Suwarto menjelaskan, bahwa mobil itu datang dari arah Gambir menuju ke Tugu Tani. Saat mendekati Tugu Tani, mobil itu oleng kehilangan kendali. Saat hilang kendali, mobil kemudian menabrak para pejalan kaki yang sedang ada di trotoar.


“Mobil nyamber pertama tiga orang, terus sekelompok lagi, terus sekelompok orang lagi. Sampai akhirnya menabrak lagi halte di situ ada anak, ibu-ibu, dan remaja. Semuanya abis pulang dari Monas, mereka ada di trotoar, bukannya nyeberang,” papar Suwarto.


Setelah menabrak halte, mobil ternyata tidak berhenti juga. Mobil itu lalu meringsek masuk ke halaman Kementerian Perdagangan. “Saat masuk ke kantor kementerian aja, mobil itu membuat dua orang lagi terpental,” tutur Suwarto. Akhirnya, usai masuk kantor kementerian, mobil itu berhenti.


Suwarto adalah salah satu pejalan kaki yang beruntung selamat dari kecelakaan maut tersebut. Padahal, orang-orang sekitarnya sudah terpental dan ada pula seorang anak kecil yang terseret di bawah badan mobil. “Setelah kejadian, saya gemetaran. Ini semua pertolongan yang Maha Kuasa, saya berhasil menghindar. Ini kejadian paling mengerikan,” kata Suwarto. Seperti dikutip kompas.com.


Sementara itu, kondisi mobil “Badak Mabuk” berjenis Daihatsu Xenia itu ringsek hingga terlihat aki dan mesin dari depan. Mobil berplat nomor B 2579 XI yang berwarna hitam itu ringsek di bagian kapnya. Bemper depannya hilang sehingga aki dan mesin mobil tampak dari depan. Roda di bagian kiri depan sobek, kempes dan velg-nya penyok. Sedangkan bodi terlihat penyok di bagian kanan belakang, gardan belakang patah hingga roda dan velg mencuat ke kanan.


Kini Polisi telah menetapkan Apriani sebagai tersangka dalam kecelakaan yang menewaskan 9 orang itu. Apriani dijerat dengan Pasal 283, 287 ayat 5, Pasal 288, Pasal 310 ayat 1, ayat 2, ayat 3, dan ayat 4.


Seperti diberitakan sebelumnya, mobil Xenia hitam yang dikemudikan wanita berusia 29 tahun itu menabrak sejumlah pejalan kaki di kawasan Tugu Tani, Minggu (22/1/2012) pukul 11.10 WIB. Sembilan orang tewas dan empat lainnya luka-luka. Saat kejadian, mobil ditumpangi empat orang, yaitu si pengemudi dan tiga rekannya, Arisendi (34), Denny Mulyana (30), dan Adistina Putri Grani (25).


Afriani Si Supir Maut

My Opinion :
I think, the one that we can be blame is the driver of the car, Apriyani. Because she didn't know about her condition at that time.  She drove the car so fast up to a speed 100 km/h and it passes the speed limit. Beside that, she used drugs before she drove the car and its so dangerous and also she drove in a bad condition because she wasn't sleep all night.Hopefully, this accident doesn't occur again. And fot tha goverment, I hope to make legislation about security safety pedestrians.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar